Tuesday, November 02, 2004

Surat untuk engkau...

Ke hadapan engkau..

Aku tak paham dengan apa yang kau hendak dalam hidup ini sebenarnya? Hartamu melimpah ruah, kekuasaan pun ada..tapi kenapa engkau selalu dengki pada aku?
Sampai hati kau merusak jalanku untuk mengikuti ujian nasional itu, sehingga aku terdepak dari daftar candidate ujian..sementara kau yang masih belum lagi memenuhi persyaratan ujian..bisa terdaftar sebagai candidate..

O ya...aku lupa...Bapakmu memang berkuasa...

Tapi..apakah pantas..kekuasaan itu disalah gunakan..? Aku bukan tergesa-gesa mengerjakan paperwork ku. Aku kerjakan itu dengan penuh persiapan..hal itu terbukti dengan nilai paperwork ku yang A..:)
And...instead of bilang aku tak ada persiapan...cobalah kau introspeksi diri...deadline paperwork mu itu sudah 6 bulan yang lalu..
Kenapa belum juga kau selesaikan?? Nah kalau aku berusaha selesai tepat pada waktunya ( and I did finish it on time), salahkah aku???

Aku lihat kau suka sekali membicarakan aku di depan staff senior, di depan kawan-kawan..
Engkau selalu memperihalkan aku pada mereka. Bahkan di saat aku ada.
Ooo...kau kira hal semacam ini bercanda ya?? Sekali sekali mungkin ini gurauan, tapi kalau sudah sering itu bukan gurauan, itu harrassment.

Engkau jangan lupa, Allah jadikan sesuatu peristiwa tentu ada hikmahnya, siapakah engkau
berani betul mempersoalkan ciptaanNya?

Dah..aku sudah rela engkau yang walau tidak memenuhi persyaratan candidate ujian, berangkat ke Jakarta 3 Desember 2004 ini untuk ujian. Kudoakan kesuksesan mu. Tapi satu kau perlu ingat, hati-hati lah dalam berlisan.
Jangan pandang rendah pada orang lain dan jangan menghalalkan "segala cara" dalam mencapai tujuanmu.
Tak ada gunanya bentuk badan cantik, muka menarik kalau mulut jahat dan hati busuk.

Aku ini manusia. Aku ada perasaan juga, tahu rasa malu, rasa marah, dan rasa sedih.
Tapi aku paham..ini semua adalah "luka" kehidupan.. yang mengajak kita menyelam ke masa lampau.
Menemukan hikmah di balik kehidupan. Dan untuk mengingat masa yang akan datang.

Bak kata abhi


Sudahkah sebuah luka membawa kita pada duka atas apa yang kita lupa?

7 comments:

Hani said...

sabar ya bu dokter. bulan ini kesempatan baik untuk kita jadi lebih baik.

Ozzan said...

Di bulan puasa kayak gini, ada aja cobaan bu..
insya Allah ini jadi ladang amal buat ibu..

Salam dari kami bertiga

.:nien:. said...

Things Happen for a reason. Mungkin harus ada kejadian seperti ini supaya kita belajar something very valuable! Something that we might take it for granted kalo cuman sebagai outsider, bukan insider!
Hehehehe ... ngomong nya kok jadi tua gini.
Be strong, hunny! It will turn out to be just fine!
Sowwy ya baru kenal udah ikutan comment.

Jiwa Rasa said...

Kata orang, rezeki tak ke mana. Kalau sudah rezeki kita, akhirnya kita kan dapat juga apa yang kita inginkan. Kalau tidak hari ini, mungkin esok, kalau tidak esok mungkin lusa.
Kalau tidak di sini, mungkin balasan di Akhirat yang lebih hebat lagi...

ika said...

wah semoga si engkau menjadi sadar .. yg sabar aja bunda .. nggak bisa kasih kata2 bijak tapi yah orang spt itu suatu saat akan terbukti kalau dia berhasil dengan menghalalkan segala cara ..

met wiken semuanya yaa ..

Anonymous said...

sabar ya bu...semua yang terjadi sudah pasti atas skenarioNya. dan apapun yang menimpa kita, baik atau buruk, insya allah kan ada hikmah dan ibroh di dalamnya. Dia yang paling Mengerti apa yang terbaik bagi kita, dan mungkin dengan kejadian ini ibu akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik di masa mendatang di banding kesempatan kali ini yang terlewatkan . selamat berakhir pekan ibu rosalina sekeluarga :)

*)Iin

Anonymous said...

idem sama yg di atas. :D
sabar, Ros. nanti malah terbawa perasaan... malah jadi 'mengatai'.. :)
sabar yakh

sa