Sunday, September 19, 2004

Part Time Mother

Malam baru saja datang. Dingin menyengat menyelimuti. Jemariku masih menari diatas tuts keyboard laptop. Memilih huruf demi huruf menjadi sebuah rangkaian kata, sebagai hasil dari kolaborasi emosi dan rasioku menggarap tugas paper work ku yang tak kunjung usai sebagai syarat untuk kelulusan spesialis mata-ku. Sesekali aku menguap. Selembar kantuk menyapa. Menundukan kelopak mata. Aku terpulas di atas bangku dibawah tatapan screen laptop yang tetap menyala menyedot energi listrik.

Kepalaku terdongak ditopang sandaran kursi. Kedua tanganku terkulai di atas meja. Namun, pikiranku melayang jauh ke hari-hari sebelum ini. “Shafiya, bangun nak..sudah subuh.” Suaraku pelan mengelus lembut wajah Shafiya, anakku yang satu-satunya. “Emm...masih ngantuk....,” tanyanya sembari melek sebentar, berbalik dan merem lagi. Ketika lampu kamar mulai kunyalakan, kelopak matanya membesar meneropongku dalam dalam.
“Lho bunda, bunga nggak kerja? bapak nggak kerja?” "Bunda jangan praktek...!!! Ya...?! Bunda nggak boleh praktek??!!" kata Shafiya “Astaghfirullah...” Aku merunduk. “Bunda jangan kerja...bunda gak boleh praktek!!!.” Kalimat si Nduk terngiang-ngiang di genderang telingaku. Selanjutnya setelah itu, perasaan bersalah memeluki. Ada yang terasa nyeri di dadaku. Entah apa. Membuatku kepalaku jatuh tertunduk diatas meja disebelah keyboard. Terbayang kemudian wajah putriku itu. “Maafkan bunda nak,” aku berdesah. Tenggorokan serasa pepat mengingat mereka berdua yang begitu mengharapkanku. Sementara aku, selalu pergi pagi pulang sore. Bahkan, kalau sudah jaga, aku harus menginap di rumah sakit dan meninggalkannya berdua dengan bapaknya. Ada segumpal keprihatinan yang mengganjal hatiku. Semestinya tidak begini. Akulah yang mestinya mendidik dan menemani dia tumbuh. Akulah yang semestinya membangunkannya untuk shalat subuh berjamaah. Akulah yang semestinya mengajaknya ke masjid untuk shalat. Akulah yang selayaknya membawa dia ke sawah bukannya membiarkannya menghabiskan waktunya di depan televisi. Akulah yang semestinya yang mengajarkannya alif ba ta dan a b c d. Akulah orangnya yang harus mengajari dia mengenal Tuhannya. Akulah orangnya yang mestinya menjelaskan segala fenomena dunia ini. Akulah orangnya yang harus membawanya ke sawah dan ke sungai untuk kukenalkan kepada alam sekitar. Kepada capung, belalang dan lumpur sawah. Akulah yang semestinya menjemput dan mengantar Shafiya ke sekolah. Bukan siapa-siapa. Akulah orangnya yang sewajarnya ada di depan rumah ketika ia pulang sekolah dan berteriak, “bunda..bunda..." Akulah yang semestinya berada di sampingnya ketika ia mengganggu temannya.

Akan tetapi kenyataannya...Aku tidak ada disana. Waktuku habis dimakan rapat,kerja,jaga dan praktek.Dikarenakan oleh keadaan aku sibuk dengan pekerjaanku sendiri dan meninggalkan darah dagingku sendiri tumbuh dan berkembang. Aku selalu berkilah untuk menghibur diri sendiri bahwa apa yang ku lakukan itu demi pengabdianku kepada umat. Lalu, apakah anakku juga bukan umat. Aku bagaikan ibu paruh waktu yg datang dan pergi seharian. Seribu kalimat sayang dan segumpal materi yang kuberikan ternyata tak mampu menggantikan kehadiranku. Dan, waktu yang terhempas, tak mungkin lagi bisa aku ulangi. Tak bisa aku ganti dengan apapun.

Tak terasa, tanganku yang kutelungkupkan dibawah wajah basah. Genangannya ternyata masih ada di kelopak mataku. Saat kutegakan badan, beberapa cc air mata menganak sungai. Tenggorokan kembali sarat oleh penyesalan dan rasa bersalah. “Robbana Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang lalai mengurus amanah yang engkau berikan. Lindungilah anakku. Jadikanlah, mereka penolong agama-Mu seperti engkau jadikan Fatimah Az Zahra.”

Seperti kata penyair Kahlil Gibran, anak bagai busur panah yang meluncur deras menuju takdirnya. Anak kita pun akan berlari menuju alunan takdir hidupnya. Dan, disela-sela ketidakmampuanku, aku masih berharap busur panahku bisa melesat manis dalam aliran Tuhannya. Tentu, ia melangkah dengan panduan tangan kami, aku dan suamiku.

Ya Allah..jadikanlah anak kami penyejuk hati kami dan pemimpin orang-orang yang beriman...Amin

8 comments:

Anonymous said...

sabar ya bunda...semua orang pasti dihadapkan pada dilema di kondisi seperti ini...dan jawaban yang terbaik, ada di hati kita...insya allah...

*)Iin

Anonymous said...

Doanya bagus bunda...Insya Allah Dia mendengarkan terlebih doa itu keluar dari lubuk hati terdalam seorang ibu terhadap anaknya ...(nug)

dewi said...

Bunda...dari 24 tahun perjalanan hidup dewi nih..yang bikin semangat tiap bangun pagi untuk menyapa Tuhan, adalah lantunan ayat suci yang uma baca tiap pagi. She really make my days brighter from day to day. A role that mom shows always give a huge meaning to my maturity thoughts bout life.I used to say, she's the wind beneath my wings. Though we're far apart now, but always close in thoughts and heart. salam kenal dari Solo :)

linda said...

Bunda, yakin deh. Shafiya pasti memahami bahwa Bundanya sedang berjuang untuk umat dan juga tdk lepas utk kebahagiaannya juga. Yang penting bunda harus selalu ada setiap saat Shafiya membutuhkan ;)

Anonymous said...

doanya indah, jujur dan pasrah. Insya Allah di dengar oleh yg Maha Dengar.

dino.

rieke said...

saya juga seorang ibu yang bekerja tapi beruntung lah saya sebagai arsitek waktu kerja saya bisa disesuaikan karena saya juga berusaha sendiri, ketika saya masih bekerja dikantor orang, saya melihat betapa para ibu akan serba salah ketika menghadapi pilihan antara anak sakit dan kerja, maka itulah saya memutuskan untuk berusaha sendiri, kecil memang tapi saya masih bisa melihat perkembangan anak saya dan tidak ada yang membahagiakan seorang ibu selain anak yang sehat dan berprestasi.. hihi panjang ya.. tapi anak juga bisa menyesuaikan dengan keadaan .. hope the best for our kids..

Hani said...

dilema...oh...dilema. mudah2an yang dipilih bu dokter adalah yang terbaik buat semua

gre said...

salam kenal juga bun..
sekarang ada dua bunda jadinya..

:) sudah kenal bunda neenoy khan bunda?

oh ya, doanya semoga terkabulkan ya... amin.